TUGAS
KELOMPOK
“ADAT
PERNIKAHAN”
DI
SUSUN OLEH :
FAJAR
DIMAS (NPM : 12116547)
MUKHAMMAD
ILYAS DHARMAWAN (NPM : 15116159)
RIKI
ABDILLAH HASANUDDIN (NPM : 16116417)
KELAS
: 1KA19
JURUSAN
: SISTEM INFORMASI
FAKULTAS
: ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
MATA
KULIAH : ILMU BUDAYA DASAR
UNIVERSITAS
GUNADARMA
SALEMBA
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan
karunia-Nya, di mana hanya atas izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas
kelompok ini.
Tugas kelompok yang berisi tentang “Adat Pernikahan” yang diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas di Universitas Gunadarma.
Mengingat keterbatasan,
pengetahuan, kemampuan, pengalaman dan waktu dari penulis, maka penulis
menyadari bahwa tugas kelompok ini tidak luput dari
berbagai kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Dengan segala kerendahan hati, penulis memohon maaf jika terdapat
kesalahan dan kekurangan dalam penulisan tugas kelompok ini. Semoga tugas
kelompok ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, April 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................................
ii
DAFTAR ISI
............................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
........................................................................... 4
1.2 Unsur
Kebudayaan Betawi …………….................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Nilai Budaya …………………................................................................
8
2.2 Tradisi
Pernikahan ……………................................................................
9
BAB III ALUR PERNIKAHAN ADAT BETAWI
2.3 Tahapan Pernikahan
……………………………………...………......... 11
3.1 Transkrip
Wawancara Dengan Narasumber ………….........………….. 15
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Disetiap daerah mempunyai simbol
pernikahan yang beranekaragam jenis dan bentuknya dan pastinya memiliki arti
tersendiri serta kepercayaan dari masing-masing adat dan kebudayaan. Kita pasti
tahu apa arti dari simbol pernikahan, yang dimaksud dengan simbol pernikahan
adalah sesuatu hal atau barang yang menjadi ciri khas atau identik dari setiap
perayaan atau resepsi pernikahan dan selalu ada dalam acara pernikahan
tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa dari suatu jenis atau macam dari simbol
pernikahan itu pasti berbeda-beda dari kebudayaan ke budaya lainnya. Dalam hal
ini kita akan berbagi pengetahuan mengenai pernikahan dalam adat betawi di Indonesia.
1.2 Unsur Kebudayaan Betawi
Unsur-unsur yang terkandung dalam
kebudayaan Betawi diantaranya :
1. Sistem
Bahasa
Bahasa
Betawi merupakan bahasa sehari-hari suku asli ibu kota negara Indonesia yaitu
Jakarta. Bahasa ini mempunyai banyak kesamaan dengan Bahasa resmi Indonesia
yaitu Bahasa Indonesia.
Bahasa
Betawi merupakan salah satu anak Bahasa Melayu, banyak istilah Melayu Sumatra
ataupun Melayu Malaysia yang digunakan dalam Bahasa Betawi, seperti kata
“niari” untuk hari ini.
Ciri
khas Bahasa Betawi adalah mengubah akhiran “A” menjadi “E”. sebagai contoh,
Siape, Dimane, Ade Ape, Kenape.
2.
Sistem
Religi
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi
yang menganut agama Kristen Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit
sekali.
Menurut H. Mahbub Djunaidi kebudayaan betawi sebagai
suatu subkultur hampir tidak bisa dipisahkan dengan agama Islam. Agama Islam
sangat mengakar dalam kebudayaan Betawi terlihat dalam berbagai kegiatan
masyarakat betawi dalam menjalani kehidupan.
3. Sistem
Ilmu Pengetahuan
Pada umumnya banyak yang beranggapan bahwa Orang Betawi
itu malas bekerja, berebut warisan, sering berkelahi, dan lain-lain. Sehingga
mereka dibilang “Ngontrak di Tanah Sendiri”.
Sebenarnya banyak orang- orang Betawi yang sudah sangat
maju dalam hal pendidikan dan cara berpikir karena tersentuh modernisasi oleh
karena itu mereka mempunyai visi yang
jelas, tujuan hidup yang pasti dan berpendidikan.
Sayangnya, citra orang Betawi yang terus-menerus
ditampilkan di layar televisi adalah orang Betawi yang malas bekerja, berebut
warisan, berkelahi dengan keluarga, kalaupun sekolah sifatnya mengaji gaya
kampung. Karena pada umumnya mereka masih mempunyai sikap yang sama dengan
pendahulunya, seperti tidak kemaruk pangkat, tidak mempunyai ambisi yang terlalu
tinggi, hidup bagaikan mengikuti aliran air atau ke mana angin berembus.
4.
Sistem Mata Pencaharian
Mata pencaharian orang Betawi bisa dibedakan. Antara lain
sebagai berikut :
Mereka yang berada di tengah kota menunjukkan mata
pencaharian yang bervariasi, misalnya sebagai pedagang, pegawai pemerintah,
pegawai swasta, buruh, tukang seperti membuat meubel.
Mereka yang berada di daerah pinggiran hidup sebagai
petani sawah, buah-buahan, pedagang kecil, memelihara ikan, dan sekarang di
antara mereka banyak yang menjadi buruh pabrik, guru, dan lain-lain.
5.
Sistem Kesenian
a.
Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki
seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada
Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, orkes Samrah berasal dari Melayu,
Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang
berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni
Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki
lagu tradisional seperti "Kicir-kicir".
b.
Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara
unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng
Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek, tari silat dan
lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan
Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing.
Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama
juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.
c.
Drama
Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil.
Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari
rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka.
Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.
d.
Cerita
rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita
rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain
seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara
Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal
"keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan,
juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.
cerita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing
dan yang lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai Budaya
Kebudayaan Betawi adalah jiwa sosial
mereka yang sangat tinggi walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu
berlebih dan cenderung tendensius. Juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang
tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada
anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Mereka sangat
menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga
yang masih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa
seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Banyak
sekali hal – hal positif yang dapat kita terima di dalam budaya itu sendiri,
baik dalam segala aspek seperti sosial, seni, budaya, agama, dan masih banyak
hal positif yang bisa kita dapat dari adat dan istiadat tersebut. Akan tetapi
suatu budaya atau adat istiadat tidak semuanya bersifat positif, pasti ada
beberapa nilai ataupun kebiasaan dari adat istiadat yang memiliki nilai
negative dan berdampak buruk bagi perkembangan atau menghambat seseorang yang
menganut adat istiadat tersebut jika dia melakukannya.
Beberapa
hal atau kebiasaan dari adat istiadat betawi yang memiliki nilai negatif
diantaranya :
1. Melupakan
Bahasa Indonesia/ Bahasa Sendiri
Banyak
orang yang memiliki keturunan Betawi atau sering disebut dengan Betawi Tulen
terkadang sering sekali menggunakan bahasa betawi dalam kesehariannnya. Dan
mereka juga sering sekali melupakan bagaimana cara menggunakan bahasa Indonesia
yang baik serta melupakan bahasa kebesarannya tersebut.
2. Lebih
mementingkan Gengsi
Terkadang
ada sebagian orang yang memiliki adat istiadat Betawi memiliki “Gengsi” atau
rasa malu yang amat tinggi dan mahal harganya. Hal ini dikarenakan mungkin di
masa lalu, keturunan betawi sangat berkuasa dan memiliki apa yang mereka
inginkan sehingga membuat mereka sedikit memiliki Gengsi yang besar.
3. Tidak
suka untuk diperintah
Mungkin
hal ini sering kali ditemukan di beberapa kesempatan, sebagian besar orang
Betawi terkadang mempunyai prinsip yaitu “Lebih baik memerintah daripada
diperintah”. Terlebih jika mereka diperintah oleh orang yang derajat ataupun
umurnya lebih rendah dari individu mereka masing – masing.
2.2 Tradisi Pernikahan
Pernikahan ala betawi bagi kampung
kukusan, kampung sawah, kampung cipedak masih sering ditemukan walau dibeberapa
kegiatan sudah banyak yang diabaikan. Untuk itu mari para abang none yang
tergabung dalam Forkabi, Forkot, Betawi Rembug, Perbekut dan anggota komunitas
muda betawi lainnya untuk bersama menyimak saduran dari swaberita.com agar
budaya adat nikah ala betawi kembali ke hitahnya, semoga sekecil apapun yang
kita lakukan menjadi catatan tersendiri bagi penerus nanti.
Masyarakat
Betawi memiliki sejarah panjang sebagaimana terbentuknya kota Jakarta sebagai
tempat domisili asalnya. Sebagai sebuah kota dagang yang ramai, Sunda Kelapa,
nama Jakarta tempo dulu, disinggahi oleh berbagai suku bangsa. Penggalan budaya
Arab, India, Cina, Sunda, Jawa, Eropa, Melayu dan sebagainya seakan berbaur
menjadi bagian dari karakteristik kebudayaan Betawi yang kita kenal kini.
Singkat kata, tradisi budaya Betawi laksana ‘campursari’ dari beragam budaya
dan elemen etnik masa silam yang secara utuh menjadi budaya Betawi kini.
Suku
Betawi sangat mencintai kesenian, salah satu ciri khas kesenian mereka yaitu
Tanjidor yang dilatar belakangi dari budaya belanda, selain itu betawi memiliki
kesenian keroncong tugu yang dilatar belakangi dari budaya Portugis-Arab,
kesenian gambang kromong yang dilatar belakangi dari budaya cina. Selain
kesenian yang selalu ditampilkan dengan penuh kemeriahan, tata cara pernikahan
budaya betawi juga sangat meriah.
Untuk
adat prosesi pernikahan betawi, ada banyak serangkaian prosesi. Didahului masa
perkenalan melalui “Mak Comblang”. Dilanjutkan lamaran, pingitan, upacara
siraman. Prosesi potong cuntung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang
diapit lalu digunting. Kemudian dilanjutkan dengan malam pacar, malam dimana
mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar. Puncak adat
betawi adalah Akad nikah.
BAB
III
ALUR
PERNIKAHAN ADAT BETAWI
3.1 Tahapan Pernikahan
Tahapan
dalam Rangkaian Upacara Pernikahan Adat Betawi
1. Ngedelengin
Sistem pernikahan pada masyarakat Betawi
pada dasarnya mengikuti hukum Islam, kepada siapa mereka boleh atau dilarang
mengadakan hubungan perkawinan. Dalam mencari jodoh, baik pemuda maupun pemudi
betawi bebas memilih teman hidup mereka sendiri. Karena kesempatan untuk
bertemu dengan calon kawan hidup itu tidak terbatas dalam desanya, maka banyak
perkawinan pemuda pemudi desa betawi terjadi dengan orang dari lain desa. Namun
demikian, persetujuan orangtua kedua belah pihak sangat penting, karena orang tualah
yang akan membantu terlaksanakannya pernikahan tersebut.
Ngedelengin bisa dilakukan siapa saja
termasuk si jejaka sendiri. Pada sebuah keriaan atau pesta perkawinan biasanya
ada malem mangkat. Keriaan seperti ini melibatkan partisipasi pemuda. Di
sinilah ajang tempat bertemu dan saling kenalan antara pemuda dan pemudi.
Ngedelengin juga bisa dilakukan oleh orangtua walaupun hanya pada tahap awalnya
saja.
Setelah
menemukan calon yang disukai, kemudian Mak Comblang mengunjungi rumah si gadis.
Setelah melalui obrolan dengan orangtua si gadis, kemudian Mak Comblang
memberikan uang sembe (angpaw) kepada si gadis. Kemudian setelah ada kecocokan,
sampailah pada penentuan ngelamar. Pada saat itu Mak Comblang menjadi juru bicara
perihal kapan dan apa saja yang akan menjadi bawaan ngelamar.
2. Nglamar
Bagi orang Betawi, ngelamar adalah
pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki (calon tuan
mantu) untuk melamar wanita (calon none mantu) kepada pihak keluarga wanita.
Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau
penolakan atas maksud tersebut. Pada saat melamar itu, ditentukan pula
persyaratan untuk menikah, di antaranya mempelai wanita harus sudah tamat
membaca Al Quran. Yang harus dipersiapkan dalam ngelamar ini adalah:
a. Sirih
lamaran
b. Pisang
raja
c. Roti
tawar
d. Hadiah
Pelengkap
e. Para
utusan yang tediri atas: Mak Comblang, Dua pasang wakil orang tua dari calon
tuan mantu terdiri dari sepasang wakil keluarga ibu dan bapak.
3. Akad
Nikah
Sebelum diadakan akad nikah secara adat,
terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra-akad nikah yang terdiri dari:
a. Masa
dipiare, yaitu masa calon none mantu dipelihara oleh tukang piara atau tukang
rias. Masa piara ini dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan
memelihara kecantikan calon none mantu untuk menghadapi hari akad nikah nanti.
b. Acara
mandiin calon pengatin wanita yang dilakukan sehari sebelum akad nikah.
Biasanya, sebelum acara siraman dimulai, mempelai wanita dipingit dulu selama
sebulan oleh dukun manten atau tukang kembang. Pada masa pingitan itu, mempelai
wanita akan dilulur dan berpuasa selama seminggu agar pernikahannya kelak
berjalan lancar.
c. Acara
tangas atau acara kum. Acara ini identik dengan mandi uap yang tujuanya untuk
membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang masih tertinggal. Pada
prosesi itu, mempelai wanita duduk di atas bangku yang di bawahnya terdapat air
godokan rempah-rempah atau akar pohon Betawi. Hal tersebut dilakukan selama 30
menit sampai mempelai wanita mengeluarkan keringat yang memiliki wangi rempah,
dan wajahnya pun menjadi lebih cantik dari biasanya.
d. Acara
ngerik atau malem pacar. Dilakukan prosesi potong cantung atau ngerik bulu
kalong dengan menggunakan uang logam yang diapit lalu digunting. Selanjutnya
melakukan malam pacar, di mana mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya
dengan pacar.
Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan,
masuklah pada pelaksanaan akad nikah. Pada saat ini, calon tuan mantu berangkat
menunju rumah calon none mantu dengan membawa rombongannya yang disebut rudat.
Pada prosesi akad nikah, mempelai pria dan keluarganya mendatangi kediaman
mempelai wanita dengan menggunakan andong atau delman hias. Kedatangan mempelai
pria dan keluarganya tersebut ditandai dengan petasan sebagai sambutan atas
kedatangan mereka.
Pada prosesi ini mempelai pria betawi
tidak boleh sembarangan memasuki kediaman mempelai wanita. Maka, kedua belah
pihak memiliki jagoan-jagoan untuk bertanding, yang dalam upacara adat
dinamakan “Buka Palang Pintu”. Pada prosesi tersebut, terjadi dialog antara
jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta
dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Semua itu merupakan
syarat di mana akhirnya mempelai pria diperbolehkan masuk untuk menemui orang
tua mempelai wanita.
4. Acare
Negor
Sehari setelah akad nikah, Tuan
Penganten diperbolehkan nginep di rumah None Penganten. Meskipun nginep, Tuan
Penganten tidak diperbolehkan untuk kumpul sebagaimana layaknya suami-istri.
None penganten harus mampu memperthankan kesuciannya selama mungkin. Bahkan
untuk melayani berbicara pun, None penganten harus menjaga gengsi dan jual
mahal. Meski begitu, kewajibannya sebagai istri harus dijalankan dengan baik
seperti melayani suami untuk makan, minum, dan menyiapkan peralatan mandi.
5. Pulang
Tige Ari
Acara ini berlangsung setelah tuan raje
muda bermalam beberapa hari di rumah none penganten. Di antara mereka telah
terjalin komunikasi yang harmonis. Sebagai tanda kegembiraan dari orangtua Tuan
Raje Mude bahwa anaknya memperoleh seorang gadis yang terpelihara kesuciannya,
maka keluarga tuan raje mude akan mengirimkan bahan-bahan pembuat lakse
penganten kepada keluarga none mantu.
6. Adat
Menetap setelah Menikah
Dalam masyarakat dan kebudayaan Betawi,
adat tidak menentukan di lingkungan mana pengantin baru itu harus tinggal
menetap. Pengantin baru diberi kebebasan memilih di mana mereka akan menetap.
Walaupun pada masyarakat dan kebudayaan Betawi berlaku pola menetap yang
ambilokal atau utrolokal, tetapi ada kecenderungan pada pola menetap yamg matrilokal
atau unorilokal dewasa ini.
3.2 Transkrip
Wawancara Dengan Narasumber
Riki
: Selamat sore terima kasih atas waktunya, sesuai dijanjikan kemarin kami ingin
menyanyakan soal pernikahan.
Narasumber
: Sore, Iya sama-sama.
Riki
: Saat menikah memakai adat apa?
Narasumber
: Kebetulan saya dan istri saya sama-sama dari betawi jadi kami memakai adat
betawi.
Riki
: Alasanya memakai adat kenapa?
Narasumber
: Maklum turunan orang tua jadi pakai adat, dan melestarikan kebudayaan.
Riki
: Kalau begitu tolong jelaskan susunan pernikahannya itu seperti apa adat
betawi?
Narasumber
: Seingat saya seperti ini, dari persiapan dirumah segala tamu dari besan
membawa pernak-pernik, buah-buahan segala macem tapi yang tidak boleh
ditinggalkan itu sepasang roti buaya. Makna dibalik roti buaya itu kalau buat
orang betawi biar langgeng rumah tangganya, biar kuat seperti buaya.
Riki
: Oh seperti itu, selain itu apa lagi?
Narasumber
: Kami ada gambus ala betawi. Singkat cerita setelah diiringi gambus ada palang
pintu, palang pintu itu seakan-akan kita menyambut ada rombongan yang ingin
melamar perempuan tersebut. Ini disimbolkan agar kita harus berjuang dalam
melamar perempuan. Lalu kami melakukan ijab qobul.
Narasumber
: Ada hal unik dalam adat betawi yaitu setelah kita melakukan ijab qobul kita
dengan pasangan tidak boleh nyampur selama 3 hari. Maknanya agar diuji
kesabarannya.
Riki
: Berarti sang suami dan istri pisah rumahnya selama 3 hari?
Narasumber
: Iya betul, lalu setalah itu ada acara lagi namanya nyambut mantu ditempat
perempuan. Saat nyambut mantu ada bawaan lagi yaitu peralatan rumah tangga.
Setelah itu baru selesai semua adat betawi.
Riki
: Terakhir pesan buat orang-orang betawi biar semua kita tau apa sih pentingnya
adat pernikahan?
Narasumber
: Kebanyakan jaman sekarang sudah pada lupa adat palang pintu dan 3 hari
nyambut mantu itu semua wajib. Jaman sekarang hampir semua sudah menyepelekan
adat ini, padahal ini semua termasuk adat betawi agar kelestariannya terjaga.
Nikah di jaman sekarang memakai adat betawi sudah hilang ditelan jaman.
Riki
: Ohh seperti itu, baiklah terima kasih untuk waktunya pak selamat sore.
Narasumber
: Iya sama-sama.
Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi
https://budayanusantara2010.wordpress.com/upacara-adat-perkawinan-khas-nusantara/pernikahan-adat-betawi/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar