Minggu, 16 April 2017

Adat Pernikahan

TUGAS KELOMPOK
“ADAT PERNIKAHAN”

DI SUSUN OLEH :
FAJAR DIMAS (NPM : 12116547)
MUKHAMMAD ILYAS DHARMAWAN (NPM : 15116159)
RIKI ABDILLAH HASANUDDIN (NPM : 16116417)

KELAS : 1KA19
JURUSAN : SISTEM INFORMASI
FAKULTAS : ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
MATA KULIAH : ILMU BUDAYA DASAR
NAMA DOSEN : RAMITA HAPSARI

UNIVERSITAS GUNADARMA
SALEMBA 2017


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, di mana hanya atas izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok ini.
Tugas kelompok yang berisi tentang “Adat Pernikahan” yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas di Universitas Gunadarma.
Mengingat keterbatasan, pengetahuan, kemampuan, pengalaman dan waktu dari penulis, maka penulis menyadari bahwa tugas kelompok ini tidak luput dari berbagai kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Dengan segala kerendahan hati, penulis memohon maaf jika terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan tugas kelompok ini. Semoga tugas kelompok ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, April 2017
Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 4
            1.2 Unsur Kebudayaan Betawi  …………….................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Nilai Budaya  …………………................................................................ 8
            2.2 Tradisi Pernikahan ……………................................................................ 9
BAB III ALUR PERNIKAHAN ADAT BETAWI
            2.3 Tahapan Pernikahan ……………………………………...………......... 11
            3.1 Transkrip Wawancara Dengan Narasumber ………….........………….. 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 17


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
Disetiap daerah mempunyai simbol pernikahan yang beranekaragam jenis dan bentuknya dan pastinya memiliki arti tersendiri serta kepercayaan dari masing-masing adat dan kebudayaan. Kita pasti tahu apa arti dari simbol pernikahan, yang dimaksud dengan simbol pernikahan adalah sesuatu hal atau barang yang menjadi ciri khas atau identik dari setiap perayaan atau resepsi pernikahan dan selalu ada dalam acara pernikahan tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa dari suatu jenis atau macam dari simbol pernikahan itu pasti berbeda-beda dari kebudayaan ke budaya lainnya. Dalam hal ini kita akan berbagi pengetahuan mengenai pernikahan dalam adat betawi di Indonesia.
1.2       Unsur Kebudayaan Betawi
            Unsur-unsur yang terkandung dalam kebudayaan Betawi diantaranya :
1.      Sistem Bahasa
Bahasa Betawi merupakan bahasa sehari-hari suku asli ibu kota negara Indonesia yaitu Jakarta. Bahasa ini mempunyai banyak kesamaan dengan Bahasa resmi Indonesia yaitu Bahasa Indonesia.
Bahasa Betawi merupakan salah satu anak Bahasa Melayu, banyak istilah Melayu Sumatra ataupun Melayu Malaysia yang digunakan dalam Bahasa Betawi, seperti kata “niari” untuk hari ini.
Ciri khas Bahasa Betawi adalah mengubah akhiran “A” menjadi “E”. sebagai contoh, Siape, Dimane, Ade Ape, Kenape.
2.      Sistem Religi
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali.
Menurut H. Mahbub Djunaidi kebudayaan betawi sebagai suatu subkultur hampir tidak bisa dipisahkan dengan agama Islam. Agama Islam sangat mengakar dalam kebudayaan Betawi terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat betawi dalam menjalani kehidupan.
3.      Sistem Ilmu Pengetahuan
Pada umumnya banyak yang beranggapan bahwa Orang Betawi itu malas bekerja, berebut warisan, sering berkelahi, dan lain-lain. Sehingga mereka dibilang “Ngontrak di Tanah Sendiri”.
Sebenarnya banyak orang- orang Betawi yang sudah sangat maju dalam hal pendidikan dan cara berpikir karena tersentuh modernisasi oleh karena itu  mereka mempunyai visi yang jelas, tujuan hidup yang pasti dan berpendidikan.
Sayangnya, citra orang Betawi yang terus-menerus ditampilkan di layar televisi adalah orang Betawi yang malas bekerja, berebut warisan, berkelahi dengan keluarga, kalaupun sekolah sifatnya mengaji gaya kampung. Karena pada umumnya mereka masih mempunyai sikap yang sama dengan pendahulunya, seperti tidak kemaruk pangkat, tidak mempunyai ambisi yang terlalu tinggi, hidup bagaikan mengikuti aliran air atau ke mana angin berembus.
4.      Sistem Mata Pencaharian
Mata pencaharian orang Betawi bisa dibedakan. Antara lain sebagai berikut :

Mereka yang berada di tengah kota menunjukkan mata pencaharian yang bervariasi, misalnya sebagai pedagang, pegawai pemerintah, pegawai swasta, buruh, tukang seperti membuat meubel.
Mereka yang berada di daerah pinggiran hidup sebagai petani sawah, buah-buahan, pedagang kecil, memelihara ikan, dan sekarang di antara mereka banyak yang menjadi buruh pabrik, guru, dan lain-lain.
5.      Sistem Kesenian
a.       Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, orkes Samrah berasal dari Melayu, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti "Kicir-kicir".
b.      Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek, tari silat dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

c.       Drama
Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.
d.      Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. cerita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.









BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Nilai Budaya
Kebudayaan Betawi adalah jiwa sosial mereka yang sangat tinggi walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Mereka sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang masih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Banyak sekali hal – hal positif yang dapat kita terima di dalam budaya itu sendiri, baik dalam segala aspek seperti sosial, seni, budaya, agama, dan masih banyak hal positif yang bisa kita dapat dari adat dan istiadat tersebut. Akan tetapi suatu budaya atau adat istiadat tidak semuanya bersifat positif, pasti ada beberapa nilai ataupun kebiasaan dari adat istiadat yang memiliki nilai negative dan berdampak buruk bagi perkembangan atau menghambat seseorang yang menganut adat istiadat tersebut jika dia melakukannya.
Beberapa hal atau kebiasaan dari adat istiadat betawi yang memiliki nilai negatif diantaranya :
1.      Melupakan Bahasa Indonesia/ Bahasa  Sendiri
Banyak orang yang memiliki keturunan Betawi atau sering disebut dengan Betawi Tulen terkadang sering sekali menggunakan bahasa betawi dalam kesehariannnya. Dan mereka juga sering sekali melupakan bagaimana cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik serta melupakan bahasa kebesarannya tersebut.
2.      Lebih mementingkan Gengsi
Terkadang ada sebagian orang yang memiliki adat istiadat Betawi memiliki “Gengsi” atau rasa malu yang amat tinggi dan mahal harganya. Hal ini dikarenakan mungkin di masa lalu, keturunan betawi sangat berkuasa dan memiliki apa yang mereka inginkan sehingga membuat mereka sedikit memiliki Gengsi yang besar.
3.      Tidak suka untuk diperintah
Mungkin hal ini sering kali ditemukan di beberapa kesempatan, sebagian besar orang Betawi terkadang mempunyai prinsip yaitu “Lebih baik memerintah daripada diperintah”. Terlebih jika mereka diperintah oleh orang yang derajat ataupun umurnya lebih rendah dari individu mereka masing – masing.
2.2       Tradisi Pernikahan
Pernikahan ala betawi bagi kampung kukusan, kampung sawah, kampung cipedak masih sering ditemukan walau dibeberapa kegiatan sudah banyak yang diabaikan. Untuk itu mari para abang none yang tergabung dalam Forkabi, Forkot, Betawi Rembug, Perbekut dan anggota komunitas muda betawi lainnya untuk bersama menyimak saduran dari swaberita.com agar budaya adat nikah ala betawi kembali ke hitahnya, semoga sekecil apapun yang kita lakukan menjadi catatan tersendiri bagi penerus nanti.
Masyarakat Betawi memiliki sejarah panjang sebagaimana terbentuknya kota Jakarta sebagai tempat domisili asalnya. Sebagai sebuah kota dagang yang ramai, Sunda Kelapa, nama Jakarta tempo dulu, disinggahi oleh berbagai suku bangsa. Penggalan budaya Arab, India, Cina, Sunda, Jawa, Eropa, Melayu dan sebagainya seakan berbaur menjadi bagian dari karakteristik kebudayaan Betawi yang kita kenal kini. Singkat kata, tradisi budaya Betawi laksana ‘campursari’ dari beragam budaya dan elemen etnik masa silam yang secara utuh menjadi budaya Betawi kini.
Suku Betawi sangat mencintai kesenian, salah satu ciri khas kesenian mereka yaitu Tanjidor yang dilatar belakangi dari budaya belanda, selain itu betawi memiliki kesenian keroncong tugu yang dilatar belakangi dari budaya Portugis-Arab, kesenian gambang kromong yang dilatar belakangi dari budaya cina. Selain kesenian yang selalu ditampilkan dengan penuh kemeriahan, tata cara pernikahan budaya betawi juga sangat meriah.
Untuk adat prosesi pernikahan betawi, ada banyak serangkaian prosesi. Didahului masa perkenalan melalui “Mak Comblang”. Dilanjutkan lamaran, pingitan, upacara siraman. Prosesi potong cuntung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang diapit lalu digunting. Kemudian dilanjutkan dengan malam pacar, malam dimana mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar. Puncak adat betawi adalah Akad nikah.




BAB III
ALUR PERNIKAHAN ADAT BETAWI
3.1       Tahapan Pernikahan
Tahapan dalam Rangkaian Upacara Pernikahan Adat Betawi
1.      Ngedelengin
Sistem pernikahan pada masyarakat Betawi pada dasarnya mengikuti hukum Islam, kepada siapa mereka boleh atau dilarang mengadakan hubungan perkawinan. Dalam mencari jodoh, baik pemuda maupun pemudi betawi bebas memilih teman hidup mereka sendiri. Karena kesempatan untuk bertemu dengan calon kawan hidup itu tidak terbatas dalam desanya, maka banyak perkawinan pemuda pemudi desa betawi terjadi dengan orang dari lain desa. Namun demikian, persetujuan orangtua kedua belah pihak sangat penting, karena orang tualah yang akan membantu terlaksanakannya pernikahan tersebut.
Ngedelengin bisa dilakukan siapa saja termasuk si jejaka sendiri. Pada sebuah keriaan atau pesta perkawinan biasanya ada malem mangkat. Keriaan seperti ini melibatkan partisipasi pemuda. Di sinilah ajang tempat bertemu dan saling kenalan antara pemuda dan pemudi. Ngedelengin juga bisa dilakukan oleh orangtua walaupun hanya pada tahap awalnya saja.
Setelah menemukan calon yang disukai, kemudian Mak Comblang mengunjungi rumah si gadis. Setelah melalui obrolan dengan orangtua si gadis, kemudian Mak Comblang memberikan uang sembe (angpaw) kepada si gadis. Kemudian setelah ada kecocokan, sampailah pada penentuan ngelamar. Pada saat itu Mak Comblang menjadi juru bicara perihal kapan dan apa saja yang akan menjadi bawaan ngelamar.
2.      Nglamar
Bagi orang Betawi, ngelamar adalah pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki (calon tuan mantu) untuk melamar wanita (calon none mantu) kepada pihak keluarga wanita. Ketika itu juga keluarga pihak laki-laki mendapat jawaban persetujuan atau penolakan atas maksud tersebut. Pada saat melamar itu, ditentukan pula persyaratan untuk menikah, di antaranya mempelai wanita harus sudah tamat membaca Al Quran. Yang harus dipersiapkan dalam ngelamar ini adalah:
a.       Sirih lamaran
b.      Pisang raja
c.       Roti tawar
d.      Hadiah Pelengkap
e.       Para utusan yang tediri atas: Mak Comblang, Dua pasang wakil orang tua dari calon tuan mantu terdiri dari sepasang wakil keluarga ibu dan bapak.
3.      Akad Nikah
Sebelum diadakan akad nikah secara adat, terlebih dahulu harus dilakukan rangkaian pra-akad nikah yang terdiri dari:
a.       Masa dipiare, yaitu masa calon none mantu dipelihara oleh tukang piara atau tukang rias. Masa piara ini dimaksudkan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan calon none mantu untuk menghadapi hari akad nikah nanti.
b.      Acara mandiin calon pengatin wanita yang dilakukan sehari sebelum akad nikah. Biasanya, sebelum acara siraman dimulai, mempelai wanita dipingit dulu selama sebulan oleh dukun manten atau tukang kembang. Pada masa pingitan itu, mempelai wanita akan dilulur dan berpuasa selama seminggu agar pernikahannya kelak berjalan lancar.
c.       Acara tangas atau acara kum. Acara ini identik dengan mandi uap yang tujuanya untuk membersihkan bekas-bekas atau sisa-sisa lulur yang masih tertinggal. Pada prosesi itu, mempelai wanita duduk di atas bangku yang di bawahnya terdapat air godokan rempah-rempah atau akar pohon Betawi. Hal tersebut dilakukan selama 30 menit sampai mempelai wanita mengeluarkan keringat yang memiliki wangi rempah, dan wajahnya pun menjadi lebih cantik dari biasanya.
d.      Acara ngerik atau malem pacar. Dilakukan prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan menggunakan uang logam yang diapit lalu digunting. Selanjutnya melakukan malam pacar, di mana mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan pacar.
Setelah rangkaian tersebut dilaksanakan, masuklah pada pelaksanaan akad nikah. Pada saat ini, calon tuan mantu berangkat menunju rumah calon none mantu dengan membawa rombongannya yang disebut rudat. Pada prosesi akad nikah, mempelai pria dan keluarganya mendatangi kediaman mempelai wanita dengan menggunakan andong atau delman hias. Kedatangan mempelai pria dan keluarganya tersebut ditandai dengan petasan sebagai sambutan atas kedatangan mereka.
Pada prosesi ini mempelai pria betawi tidak boleh sembarangan memasuki kediaman mempelai wanita. Maka, kedua belah pihak memiliki jagoan-jagoan untuk bertanding, yang dalam upacara adat dinamakan “Buka Palang Pintu”. Pada prosesi tersebut, terjadi dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Semua itu merupakan syarat di mana akhirnya mempelai pria diperbolehkan masuk untuk menemui orang tua mempelai wanita.
4.      Acare Negor
Sehari setelah akad nikah, Tuan Penganten diperbolehkan nginep di rumah None Penganten. Meskipun nginep, Tuan Penganten tidak diperbolehkan untuk kumpul sebagaimana layaknya suami-istri. None penganten harus mampu memperthankan kesuciannya selama mungkin. Bahkan untuk melayani berbicara pun, None penganten harus menjaga gengsi dan jual mahal. Meski begitu, kewajibannya sebagai istri harus dijalankan dengan baik seperti melayani suami untuk makan, minum, dan menyiapkan peralatan mandi.
5.      Pulang Tige Ari
Acara ini berlangsung setelah tuan raje muda bermalam beberapa hari di rumah none penganten. Di antara mereka telah terjalin komunikasi yang harmonis. Sebagai tanda kegembiraan dari orangtua Tuan Raje Mude bahwa anaknya memperoleh seorang gadis yang terpelihara kesuciannya, maka keluarga tuan raje mude akan mengirimkan bahan-bahan pembuat lakse penganten kepada keluarga none mantu.
6.      Adat Menetap setelah Menikah
Dalam masyarakat dan kebudayaan Betawi, adat tidak menentukan di lingkungan mana pengantin baru itu harus tinggal menetap. Pengantin baru diberi kebebasan memilih di mana mereka akan menetap. Walaupun pada masyarakat dan kebudayaan Betawi berlaku pola menetap yang ambilokal atau utrolokal, tetapi ada kecenderungan pada pola menetap yamg matrilokal atau unorilokal dewasa ini.
3.2       Transkrip Wawancara Dengan Narasumber
Riki : Selamat sore terima kasih atas waktunya, sesuai dijanjikan kemarin kami ingin menyanyakan soal pernikahan.
Narasumber : Sore, Iya sama-sama.
Riki : Saat menikah memakai adat apa?
Narasumber : Kebetulan saya dan istri saya sama-sama dari betawi jadi kami memakai adat betawi.
Riki : Alasanya memakai adat kenapa?
Narasumber : Maklum turunan orang tua jadi pakai adat, dan melestarikan kebudayaan.
Riki : Kalau begitu tolong jelaskan susunan pernikahannya itu seperti apa adat betawi?
Narasumber : Seingat saya seperti ini, dari persiapan dirumah segala tamu dari besan membawa pernak-pernik, buah-buahan segala macem tapi yang tidak boleh ditinggalkan itu sepasang roti buaya. Makna dibalik roti buaya itu kalau buat orang betawi biar langgeng rumah tangganya, biar kuat seperti buaya.
Riki : Oh seperti itu, selain itu apa lagi?
Narasumber : Kami ada gambus ala betawi. Singkat cerita setelah diiringi gambus ada palang pintu, palang pintu itu seakan-akan kita menyambut ada rombongan yang ingin melamar perempuan tersebut. Ini disimbolkan agar kita harus berjuang dalam melamar perempuan. Lalu kami melakukan ijab qobul.
Narasumber : Ada hal unik dalam adat betawi yaitu setelah kita melakukan ijab qobul kita dengan pasangan tidak boleh nyampur selama 3 hari. Maknanya agar diuji kesabarannya.
Riki : Berarti sang suami dan istri pisah rumahnya selama 3 hari?
Narasumber : Iya betul, lalu setalah itu ada acara lagi namanya nyambut mantu ditempat perempuan. Saat nyambut mantu ada bawaan lagi yaitu peralatan rumah tangga. Setelah itu baru selesai semua adat betawi.
Riki : Terakhir pesan buat orang-orang betawi biar semua kita tau apa sih pentingnya adat pernikahan?
Narasumber : Kebanyakan jaman sekarang sudah pada lupa adat palang pintu dan 3 hari nyambut mantu itu semua wajib. Jaman sekarang hampir semua sudah menyepelekan adat ini, padahal ini semua termasuk adat betawi agar kelestariannya terjaga. Nikah di jaman sekarang memakai adat betawi sudah hilang ditelan jaman.
Riki : Ohh seperti itu, baiklah terima kasih untuk waktunya pak selamat sore.
Narasumber : Iya sama-sama.



 Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi
https://budayanusantara2010.wordpress.com/upacara-adat-perkawinan-khas-nusantara/pernikahan-adat-betawi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar